PENDUDUK, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
PERTUMBUHAN PENDUDUK
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan
dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu. Sebutan
pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah
pada manusia.

Penggandaan Penduduk Dunia
Berdasarkan
tabel diatas diketahui bahwa pertumbuhan penduduk semakin cepat. Begitu
pun dengan penggandaan penduduk yang jangka waktunya makin singkat.
Cepatnya pertambahan penduduk tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Faktor-Faktor Demografi
Pertambahan penduduk pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor – faktor demografi sebagai berikut:
1. Kematian (Mortalitas)
2. Kelahiran (Natalitas)
3. Migrasi (Mobilitas)
Kelahiran
dan kematian dinamakan faktor alami, sedangkan perpindahan penduduk
dinamakan faktor non alami. Di dalam pengukuran demografi ketiga faktor
tersebut diukur dengan tingkat/rate. Tingkat/rate adalah ukuran
frekuensi suatu penyakit atau peristiwa/kejadian tertentu yang terjadi
pada suatu populasi selama periode waktu tertentu, dibandingkan dengan
jumlah penduduk yang menanggung resiko tersebut.
1. Kematian
Ada beberapa tingkat kematian .tetapi disini hanya dijelaskan dua saja yakni:
- Tingkat Kematian Kasar (CDR/Crude Death Rate)
adalah banyaknya orang yang meninggal pada suatu tahun per jumlah
penduduk pertengahan tahun tsb. Secara dinyatakan tiap 1000 orang.
Sehingga dapat ditulis dengan rumus:
CDR = D x k
Pm
Ket:
CDR: Tk. kematian kasar
D: Jumlah kematian pada tahun tertentu (biasanya berdasarkan data registrasi penduduk)
Pm: Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
k: Konstanta (umumya 1.000)
adalah tingkat kematian menurut umur karena menunjukkan hasil yang lebih
teliti. Karena angka ini menyatakan banyaknya kematian pada kelompok
umur tertentu 1000 penduduk pada kelompok umur yang sama,maka dapat
dibuat rumus:
ASDRi = Di x k
PMi
Ket:
ASDRi: Tk. kematian pada kelompok umur i
Di: Jumlah kematian kelompok umur i, pada tahun tertentu (biasanya berdasarkan data registrasi penduduk)
Pmi: Jumlah penduduk kelompok umur i pada pertengahan tahun
k: Konstanta (umumya 1.000)
2. Fertilitas (Kelahiran Hidup)
Indikator
angka kelahiran tahunan mencerminkan tingkat kelahiran pada suatu waktu
atau tahun tertentu. Secara umum, angka ini merupakan ukuran berapa
banyaknya bayi yang lahir dibandingkan dengan jumlah perempuan usia
subur, pada suatu tahun tertentu untuk daerah tertentu. Indikator Angka
Kelahiran tahunan merupakan cerminan kelahiran dalam bentuk kerat
lintang (cross section) dan bukan bersifatlongitudinal atau historis.
Pengukuran fertilitas tidak sesederhana dalam pengukuran mortalitas, hal
ini disebabkan adanya alasan sbb:
1. Sulit memperoleh angka
statistik lahir hidup karena banyak bayi-bayi yang meninggal beberapa
saat setelah kelahiran tidak dicatatkan dalam peristiwa kelahiran atau
kematian dan sering dicatatkan sebagai lahir mati
2. Wanita mempunyai kemungkinan melahirkan dari seorang anak (tetapi meninggal hanya sekali)
3. Makin tua umur wanita tidaklah berarti, bahwa kemungkinan mempunyai anak makin menurun
4. Di dalam pengukuran fertilitas akan melibatkan satu orang saja.Tidak semua wanita mempunyai untuk melakukan
3. Migrasi
Migrasi
penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat
lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang
merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke
negara lain dan juga migrasi internal yang merupakan perpindahan
penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.
Migrasi
merupakan akibat dari keadaanlingkungan alam yang kurang menguntungkan.
Sebagai akibat dari keadaan alam yang kurang menguntungkan menimbulkan
terbatasnya sumber daya yang mendukung penduduk di daerah tsb. Dua
faktor migrasi, yaitu faktor penarik dan faktor pendorong.
Faktor
penarik berupa daya tarik ekonomi dari kota seperti: memberikan
pendapatan lebih besar daripada di desa. Sedangkan faktor pendorong
berasal dari desa antara lain makin sedikitnya lapangan pekerjaan di
desa akibat konversi lahan dari sawah ke perumahan dan industri yang
terjadi secara besar-besaran.
Akibat Migrasi
Hubungan
antara migrasi dengan perkembangan ekonomi kota bersifat timbal balik.
Migrasi penduduk dari desa ke kota yang baik akan menumbuhkan ekonomi
kota-kota. Tetapi bisa juga migrasi dari desa ke kota tersebut justru
menjadi beban dan tak membawa kemajuan ekonomi kota- kota yang
bersangkutan. Hal ini diukur karena penduduk yang melakukan migrasi dari
desa ke kota tersebut tak cukup berkualitas. Akibatnya mereka malah
menambah beban bagi kota-kota yang didatangi berupa: kemacetan lalu
lintas, kekumuhan, kewajiban bagi pemerintah untuk menyediakan berbagai
prasarana seperti air minum, listrik, dan lain-lain yang lebih banyak,
dan lain-lain beban yang tidak ringan.
Oleh karenanya satu-satunya jalan adalah menyebarkan kegiatan ekonomi supaya jangan terkonsentrasi di kota-kota besar saja.
Piramida Penduduk

Ada 3 macam:
1. Piramida Penduduk Muda (expansive)
2. Piramida Penduduk Stasioner
3. Piramida Penduduk Tua (Constructive)
1. Piramida Penduduk Muda (Expansive)
Suatu
wilayah yang memiliki angka kelahiran yang tinggi dan angka kematian
yang rendah sehingga daerah ini mengalami pertumbuhan penduduk yang
cepat. Piramida ini dicirikan sebagian besar penduduk masuk dalam
kelompok umur muda. Contohnya adalah negara-negara yang sedang
berkembang, misalnya Indonesia, Malaysia, Filipina, dan India
2. Piramida Penduduk Stasioner
Suatu
wilayah memiliki angka kelahiran dan angka kematian yang sama-sama
rendah (seimbang). Contohnya adalah negara-negara Eropa Barat.
3. Piramida Penduduk Tua (Constructive)
Suatu
wilayah memiliki angka kelahiran yang menurun dengan cepat dan tingkat
kematian yang rendah. Piramida ini juga dicirikan dengan jumlah kelompok
umur muda lebih sedikit dibanding kelompok umur tua. Contohnya adalah
negara-negara yang sudah maju, misalnya Amerika Serikat.
Struktur Penduduk
Struktur
penduduk merupakan dinamika kependudukan, dimana membicarakan tentang
perubahan-perubahan besaran penduduk menurut waktu dalam suatu wilayah.
Dan merupakan komposisi penduduk yang pengelompokan penduduk menurut
ciri atau karakteristik tertentu baik sosial, ekonomi maupun demografis.
Informasi tentang jumlah penduduk untuk kelompok usia tertentu
penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan
penduduk sebagai pelaku pembangunan. Keterangan atau informasi tentang
penduduk menurut umur yang terbagi dalam kelompok umur lima tahunan,
sangat penting dan dibutuhkan berkaitan dengan pengembangan kebijakan
kependudukan terutama berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia.
Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga
modal dalam pembangunan.
Informasi tentang jumlah penduduk serta
komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat
tinggal, pekerjaan dll. penting diketahui terutama untuk mengembangkan
perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial,
politik, lingkungan dll. yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan
manusia.
Umur dan Jenis Kelamin
Dalam
pengetahuan tentang kependudukan dikenal istilah karakteristik penduduk
yang berpengaruh penting terhadap proses demografi dan tingkah laku
sosial ekonomi penduduk. Karakteristik penduduk yang paling penting
adalah umur dan jenis kelamin, atau yang sering juga disebut struktur
umur dan jenis kelamin. Struktur umur pendudukdapat dilihat dalam umur
satu tahunan atau yang disebut juga umur tunggal (single age), dan yang
dikelompokkan dalam lima tahunan. Dalam pembahasan demografi pengertian
umur adalah umur pada saat ulang tahun terakhir. Misalnya Ani lahir pada
bulan Januari tahun 1998 dan Sensus 2000 dilaksanakan pada bulan Juli.
Jadi pada saat Sensus 2000 dilaksanakan Ani berusia 2 tahun 6 bulan,
tetapi dalam perhitungan demografi Ani dicatat sebagai berumur 2 tahun
saja.
Sensus maupun survey yang dilaksanakan di Indonesia mencatat
adanya digital preference yakni kecenderungan penduduk menyebut umurnya
dengan angka berakhiran 0 atau 5. Hal ini menyebabkan penumpukan
penduduk dengan umur-umur berakhiran 0 dan 5 (age heaping), sebaliknya
terdapat kekurangan cacah pada umur-umur lain terutama umur yang
berakhiran 1, 4, 6, dan 9. Untuk menanggulangi hal ini demografer
memakai struktur umur yang dikelompokkan dalam umur lima tahunan yakni :
0-4 ; 5-9 ; 10-14 ; 15-19; 20-24; 25-29; 30-34; 35-39; 40-44; 45-49;
50-54; 55-59; 60-64; 65-69; 70-74; 75 tahun ke atas.
Karakteristik Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Karakteristik
penduduk menurut umur dapat ditabulasi silang dengan jenis kelamin atau
dapat juga ditabulasi silang dengan karakteristik sosial misalnya
penduduk menurut umur dan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan,
penduduk menurut umur dengan tempat tinggal, penduduk menurut umur
dengan status pekerjaan dll.Informasi tentang jumlah penduduk untuk
kelompok usia tertentu penting diketahui agar pembangunan dapat
diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai pelaku pembangunan.
Keterangan atau informasi tentang penduduk menurut umur yang terbagi
dalam kelompok umur lima tahunan, sangat penting dan dibutuhkan
berkaitan dengan pengembangan kebijakan
kependudukan terutama
berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Jumlah penduduk yang
besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam
pembangunan.
Dengan mengetahui jumlah dan persentase penduduk di tiap
kelompok umur, dapat diketahui berapa besar penduduk yang berpotensi
sebagai beban yaitu penduduk yang belum produktif (usia 0-14 tahun)
termasuk bayi dan anak (usia 0-4 tahun) dan penduduk yang dianggap
kurang produktif (65 tahun ke atas). Juga dapat dilihat berapa
persentase penduduk yang berpotensi sebagai modal dalam pembangunan
yaitu penduduk usia produktif atau yang berusia 15-64 tahun. Selain itu,
dalam pembangunan berwawasan jender, penting juga mengetahui informasi
tentang berapa jumlah penduduk perempuan terutama yang termasuk dalam
kelompok usia reproduksi (usia 15-49 tahun), partisipasi penduduk
perempuan menurut umur dalam pendidikan, dalam pekerjaan dll. Dibawah
ini adalah contoh grafik penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin.
Indikator Karakteristik Penduduk
Indikator penting tentang umur dan jenis kelamin maupun jumlah penduduk adalah:
1. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio)
2. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio)
3. Tingkat pertumbuhan penduduk
1. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio)
Rasio Jenis
Kelamin (RJK) adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan
jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Dibawah ini adalah
contoh grafik RJK.

2. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio)
Rasio
Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah perbandingan antara jumlah
penduduk berumur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun
keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun. Rasio
ketergantungan dapat dilihat menurut usia yakni Rasio Ketergantungan
Muda dan Rasio Ketergantungan Tua. Rasio Ketergantungan Muda adalah
perbandingan jumlah penduduk umur 0-14 tahun dengan jumlah penduduk umur
15 – 64 tahun. Sedangkan Rasio Ketergantungan Tua adalah perbandingan
jumlah penduduk umur 65 tahun ke atas dengan jumlah penduduk di usia
15-64 tahun. Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan
sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi
suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang
berkembang.
Dependency ratio merupakan salah satu indikator
demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio
menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang
produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak
produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratioyang semakin rendah
menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang
produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak
produktif lagi.
Cara Menghitung
Rasio
Ketergantungan didapat dengan membagi total dari jumlah penduduk usia
belum produktif (0-14 tahun) dan jumlah penduduk usia tidak produktif
(65 tahun keatas) dengan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun).
Rumus:
RKTotal = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Muda dan Tua
RKMuda = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Muda
RKTua = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Tua
P(0-14) = Jumlah Penduduk Usia Muda (0-14 tahun)
P(65+) = Jumlah Penduduk Usia Tua (65 tahun keatas)
P(15-64) = Jumlah Penduduk Usia Produktif (15-64 tahun)
3.Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan
penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu
pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Misalnya pertumbuhan
penduduk Indonesia dari tahun 1995 ke tahun 2000 adalah perubahan jumlah
penduduk Indonesia dari tahun 1995 sampai 2000.
Indikator tingkat
pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di
suatu wilayah atau negara dimasa yang akan datang. Dengan diketahuinya
jumlah penduduk yang akan datang, diketahui pula kebutuhan dasar
penduduk ini, tidak hanya di bidang sosial dan ekonomi tetapi juga di
bidang dengan cara seperti ini belum dapat menunjukkan karakteristik
penduduk dimasa yang akan datang.
Untuk itu politik misalnya mengenai
jumlah pemilih untuk pemilu yang akan datang. Tetapi prediksi jumlah
penduduk diperlukan proyeksi penduduk menurut umur dan jenis kelamin
yang membutuhkan data yang lebih rinci yakni mengenai tren fertilitas,
mortalitas dan migrasi. Dibawah ini adalah contoh grafik pertumbuhan
penduduk.

Kebudayaan

Hindu - Budha
Akuturasi
adalah perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan
damai dan serasi. Contohnya, perpaduan kebudayaan antara Hindu-Budha
dengan kebudayaan Indonesia, dimana perpaduan antara dua kebudayaan itu
tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut.
Oleh karena itu, kebudayaan Hindu-Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu saja. Hal ini disebabkan:
Masyarakat
Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi,
sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan
kebudayaan Indonesia
Kecakapan istimewa. Bangsa Indonesia memiliki
apa yang disebut dengan istilah local genius, yaitu kecakapan suatu
bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah
unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia
1. Seni Bangunan
Dasar bangunan
candi itu merupakan hasil pembangunan bangsa Indonesia dari zaman
Megalitikum, yaitu bangunan punden berundak-undak. Punden berundak-undak
ini mendapat pengaruh Hindu-Budha, sehingga menjadi wujud sebuah candi,
seperti Candi Borobudur.
2. Seni rupa/Seni lukis
Unsur seni rupa
dan seni lukis India telah masuk ke Indonesia.hal ini terbukti dengan
ditemukannya patung Budha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga
patung Budha berlanggam Amarawati ditemukan di Sikendeng (Sulawesi
Selatan). Pada Candi Borobudur tampak adanya seni rupa India, dengan
ditemukannya relief-relief ceritera Sang Budha Gautama. Relief pada
Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukan suasana alam Indonesia,
terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung merpati.
Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan
tersebut merupakan lukisan asli Indonesia, karena tidak pernah
ditemukan pada candi-candi yang terdapat di India. Juga relief pada
Candi Prambanan yang memuat cerita Ramayana.
3. Seni sastra
Prasasti-prasasti
awal menunjukkan pengaruh Hindu-Budha di Indonesia, seperti yang
ditemukan di Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.
4. Kalender
Diadopsinya
sistem kalender atau penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari
akulturasi, yaitu terlihat dengan adanya penggunaan tahun Saka di
Indonesia. Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau konogram
dalam usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka.
Candra Sangkala adala angka huruf berupa susunan kalimat atau gambar
kata. Contoh tahun Candra Sangkala adalah “Sirna Ilang Kertaning Bumi”
sama dengan 1400 (tahun saka) dan sama dengan 1478 Masehi.
5.Kepercayaan dan Filsafat
Masuk dan
berkembangnya pengaruh Hindu-Budha tidak meninggalkan kepercayaan asli
bangsa Indonesia, terutama terlihat dari segi pemujaan terhadap roh
nenek moyang dan pemujaan terhadap dewa-dewa alam.
6. Pemerintahan
Setelah
masuknya pengaruh Hindu-Budha, tata pemerintahan disesuaikan dengan
sistem kepala pemerintahan yang berkembang di India. Seorang kepala
pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang raja,
yang memerintah wilayah kerajaannya secara turun temurun.
7. Desakan Budaya
Desakan suatu budaya pada budaya lain disebut dominasi. Contohnya masyarakat Betawi, Aborigin dan Irian.
ISLAM
Indonesia
merupakan negara Muslim terbesar di seluruh dunia. Muslim di Indonesia
juga dikenal dengan sifatnya yang moderat dan toleran. Sejarah awal
penyebaran Islam di sejumlah daerah yang sekarang dikenal sebagai
Indonesia sangatlah beragam. Penyebaran Islam di tanah Jawa sebagian
besar dilakukan oleh walisongo (sembilan wali). Berikut ini adalah
informasi singkat mengenai walisongo.
"Walisongo" berarti sembilan
orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan
Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan
Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis
bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak
dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Maulana Malik
Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik
Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti
juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan
Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang.
Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan
Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik
Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara
Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah
penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria
di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para
intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka
mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan,
bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga
pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi
pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam
berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan
Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan
Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang
pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah
pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya
dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan
kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia.
Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun
peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di
Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta
dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut
dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai
peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim
yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit;
Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga
Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa
yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.
Kebudayaan Barat
kebudayaan
Barat, yang sedang naik-daun dan berkelindan dengan problematika
kehidupan manusia. Kebudayaan Barat adalah sebuah kebudayaan yang
dipromosikan lewat globalisasi. Sebuah kebudayaan yang ternyata bersifat
kontradiktif antara unsur kebudayaan yang satu dengan yang lainnya
Kondisi
ini dapat dilihat dari peperangan yang terjadi antara keyakinan dengan
sains, keyakinan dengan filsafat, keyakinan dengan seni, keyakinan
dengan ekonomi, politik dengan moralitas, moralitas dengan ekonomi, dan
lain-lain.
Dapat dilihat, bahwa merupakan suatu hal yang umum
diketahui bahwa kondisi tersebut wajar terjadi. Dan bahkan kerap
digeneralisir kepada seluruh kebudayaan yang ada di seluruh pelosok
bumi. Sehingga muncul anggapan yang naif akibat pencitraan dan kegelapan
mata, bahwa sangat sulit untuk menyatukan atau menghentikan peperangan
tersebut.
Inilah penyebab yang mungkin membuat Barat membuat sebuah
mekanisme pelumpuhan kemampuan mendominasi atau menyerang kepada unsur
kebudayaan lain. Lewat pencitraan bahwa di balik segala sesuatu ada
kekuasaan, relativitas kebenaran, teologi global, pluralisme agama,
anarkis metodologis, Hak Asasi Manusia, dan masih banyak lainnya. Dan
usaha tersebut sudah menampakkan pengaruhnya dalam kehidupan seluruh
manusia yang terjangkau oleh globalisasi.
Hal lain yang terjadi adalah munculnya sebuah kondisi inferior tentang dua hal dalam kebudayaan yaitu, keyakinan dan moralitas.